Monday, August 09, 2004

Pepatah Cinta # 2

Keesokan harinya ia telah bertekad untuk menjadi lebih baik. Ia tidak mau dipermalukan seperti kemarin lagi. Semalam semua buku-buku novelnya telah ia ikat dan dimasukkan ke dalam kardus, serta diselotip rapat-rapat. Dan saat di kampus, ia tidak lagi duduk di perpustakaan sepanjang waktu kosong hanya untuk membaca buku. Ia semakin sering berbaur dan bergosip ria dengan teman-temannya. Setiap sindiran yang ditujukan kepadanya langsung ia tepis, “Sorry yah! Gue udah gak tertarik tuh baca novl, udah gue buang semua!” katanya sedikit berbohong. Ia tidak mungkin rela membuang buku-bukunya begitu saja, itu terlalu berarti. Maka dengan cepat citranya pulih kembali dan gossip tentang dirinya pun segera berlalu dengan cepat.
* * *
Suatu hari, ada seorang pria yang baru dikenalnya bulan lalu mengajaknya jalan-jalan. Namanya Edbert. Edbert lebih tua 1 tahun dari Rima. Penampilannya tidak dapat dikatakan begitu keren seperti Zico. Ia sederhana sekali, berkacamata, rambutnya dibelah samping dan tingginya tidak terpaut jauh dari Rima. Badannya pun tidak terlalu ramping, namun tidak dapat dikatakan gendut. Edbert tertarik dengan Rima karena pesonanya yang begitu polos. Dan lagipula Edbert ternyata punya hobby yang sama dengan hobby lama Rima, yaitu membaca buku. Sehingga setiap mereka mengobrol, obrolannya selalu nyambung dan menjadi begitu menyenangkannya.
* * *
Malam itu mereka tidak berencana untuk makan malam, tapi mereka pergi ke pasar malam untuk sekedar jalan-jalan saja. Dan kebetulan Edbert mengincar sebuah stand yang sedang mengobral buku. Rima begitu menikmati kencannya malam itu.
* * *
“Rim, elo gak mau ikutan cari buku? Gila ini sih berkah banget, 60% off euy!” tanya Edbert gembira saat ia sedang mengaduk-ngaduk buku di dalam keranjang buku. Ia menyadari bahwa Rima diam membeku di sampingnya dan hanya memperhatikan dirinya yang sedang asik sendiri.
* * *
“Umm... entahlah! Rasanya udah lama banget gue gak beli buku-buku lagi. Ngeliat elo nyari-nyari gitu aja, gue udah senang sendiri gini!” jawab Rima enggan.
* * *
“Alaaaah... udah deh cuek aja! Rugi berat loh kalo gak beli!” ujar Edbert asal.
* * *
“Engga deh, makasih! Gue gak mau kebiasaan buruk gue keluar lagi. Yah, pastinya lo udah denger cerita memalukan gue itu?” Rima tersenyum kecut. Kenangan pahit terlintas di pikirannya.“Oh, bullshit-nya Zico? Emang bener gak sih tuh cerita?” tanya Edbert sampai akhirnya ia berhasil mengumpulkan 7 buku di tangannya, ia menggendong semua buku itu dan menuju kasir, “Eh, mbak! Tunggu bentar di sini yah! Gue mo bayar dulu!”
* * *
“Hehe... ok! Hati-hati yah, Bu, nanti anaknya jatuh dari gendongan!” canda Rima. Edbert hanya membalasnya dengan tawa kecilnya.
* * *
Selagi Edbert pergi ke kasir, Rima iseng mengambil sebuah novel dengan judul yang menarik hatinya “Pepatah Cinta”. Lalu ia membaca sinopsis pendek di cover belakang buku itu. “Hmm... bagus juga! Tapi sayang, gue harus bisa nahan diri. Hhh... kayaknya sengsara banget sih! Kesel!” kata Rima dalam hati.
* * *
Tak berapa lama kemudian Edbert kembali dengan membawa sekantung penuh buku. Dengan cepat Rima menaruh kembali buku yang dipegangnya. Edbert yang melihatnya, tersenyum kecil. Rima jadi merasa malu.
* * *
“Eh, elo tunggu gue di warteg yang itu dong! I got something to do nih!” ujar Edbert, seraya menunjukkan jarinya ke arah sebuah warteg yang ramai.
* * *
“Kita mo makan di sono?” tanya Rima.
* * *
”Yup! Erm... gak pa-pa kan?” tanya Edbert ragu-ragu.
* * *
“Oh, I don’t mind! Udah biasa kok gue makan di warteg!”
* * *
“Ok, deh! Gih sono, pesen apa dulu kek! Ntar gue yang bayar, ok?”“Ok!” jawab Rima singkat dan ia langsung pergi menuju ke warteg itu dan memesan 2 gelas es teh manis.
* * *
Beberapa menit kemudian, Edbert muncul di sana dan duduk di sebelah Rima. “Loh? Kok belon pesen makanan?” tanyanya.
* * *
“Umm... sorry, gue gak tau lo mau apa.” jawab Rima.
* * *
“Oh, gak pa-pa kok!” Lalu mereka berdua mengajukan pesanannya masing-masing.
* * *
Setelah mengemukakan pesanannya, tiba-tiba Edbert menyodorkan sesuatu ke arahnya. Ia benar-benar tidak percaya apa yang ada di hadapannya kini. Itu novel yang tadi ia baca sinopsisnya.
* * *
“Nih, buat elo! Judulnya bagus juga “Pepatah Cinta”, gue sih belon baca sinopsisnya, tapi kayaknya elo tadi tertarik banget. Dan gue yakin pilihan lo pasti ok punya! Hehe... kan elo expert-nya!”
* * *
“Erm... Bert, sorry, gue... Umm... gue gak bisa menerima buku ini. Gue udah buat janji sama diri gue kalo gue gak akan beli buku lagi. Sorry, gue cuman gak mau terulang hal yang dulu. Tadi gue belon jawab, semua gossipnya Zico itu emang bener kok. So, elo pasti gak mau hal itu terjadi sama lo kan?”
* * *
“Hey! Ini hadiah loh! Jadi bukan elo yang beli kan?! Gak sopan kalo gak nerima pemberian orang loh!” Dan gue cam kan aja yah! Gue Edbert, bukan Zico, ok?”
* * *
Rima tersenyum mendengar ucapan Edbert barusan, ia nampak begitu baik pada dirinya. Seolah-olah masa lalu Rima tidak berarti apa-apa di mata Edbert. Maka Rima pun mengambil buku itu pelan-pelan dari tangan Edbert. “Thanks!” Ia masih nampak ragu-ragu sebenarnya. Baru saja buku itu diambilnya, makanan datang ke meja mereka berdua. Rima jadi semakin takut, ia benar-benar takut kejadian yang sama terulang lagi. Ia tidak rela kehilangan teman kencannya yang baru ini, tepatnya yang sebenarnya telah memasuki ruang cinta di dalam hatinya. Ia termenung untuk sesaat memandangi makanannya.
* * *
Tapi kemudian Edbert mengagetkannya, “Rim, makan dong! Gak enak nih makan sendirian! Lagian emangnya bisa kenyang yah kalo diliatin doang?”
* * *
Rima menengok pada Edbert dan ia tampak terkejut.
* * *
Edbert menyadari keterkejutan Rima, maka ia pun berkata, “Apa? Oh, yeah, emang sih kata mama gak baik kalo makan sambil baca buku, tapi sekali-sekali kan boleh dilanggar, dong?” Lalu ia tersenyum nakal dan melanjutkan kegiatan makan sambil membacanya.
* * *
Rima tidak percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya, seolah-olah Edbert memberitahunya untuk melakukan hal yang sama. Tiba-tiba seperti ada suatu kegembiraan, tekad, serta kekuatan di dalam dirinya, perasaan yang sama saat ia sedang senang-senangnya membaca setumpukan buku di kamarnya selama berjam-jam. Lalu, “Hell yeah!” katanya pada dirinya sendiri dan ia memutuskan untuk kembali pada kebiasaan lamanya.
* * *
Akhirnya acara makan yang tenang itu, karena masing-masing sedang larut dalam cerita novel yang dipegang masing-masing, selesai juga. Edbert mengantar Rima sampai ke kos-annya, bahkan sampai ke depan kamarnya.
* * *
“Edbert, asli! Gue gak tau harus ngomong apa sama lo! Ini bener-bener malam terindah buat gue. Udah lama banget gue gak merasa sesenang ini. Cuma 2 kata, thanks banget!” senyum lebar dan manis terpasang indah di wajah Rima. Senyum yang sudah lama tidak pernah ditunjukkannya.
* * *
“No, problem! Gue juga seneng kok! Oh, iya bukunya harus baca sampe halaman terakhir yah! Ok, gue cabut dulu! Good night!” seru Edbert.
* * *
“Good night too! Thanks ya!” seru Rima. Edbert sudah menuruni tangga, ia mengangkat tangan kanannya, seolah-plah mengartikan, “Iya!”. Mata Rima mengikuti Edbert sampai ia tak terjangkau lagi oleh pandangan mata Rima. Lalu Rima cepat-cepat masuk ke kamarnya dan kembali meneruskan bacaannya., ia sudah tidak sabar untuk mencapai halaman terakhir, seperti kata Edbert tadi.
* * *
“Konyol banget sih dia nyuruh gue baca sampe halaman akhir. Yah, pasti gue baca sampe tamat-lah! Gak mungkin engga! Dasar Edbert!” seru Rima dalam hatinya sendiri.
* * *
Akhirnya kata “The End” terpampang di akhir halaman tanpa disadarinya, Rima menghabiskan sisa bacaannya hanya dalam waktu setengah jam. Tapi tiba-tiba, ia merasa ada sesuatu di balik halaman kosong yang di samping halaman tamat, yang tepatnya adalah halaman terakhir buku itu yang seharusnya benar-benar kosong, tapi sepertinya ada coretan-coretan di halaman baliknya. Karena penasaran, maka ia membaliknya. Ternyata ada tulisan tangan dengan bolpen biru. Maka ia membacanya dengan seksama.
* * *

Dear Rima,

Hey! Akhirnya sampe juga lo di halaman terakhir! Rima, I wanna tell you this, pepatah cinta gue : I like you just the way you are! Kalau elo berpikir gue akan benci sama elo gara-gara nanti elo baca bukku pas kita lagi dinner, elo salah besar! Justru itulah uniknya elo! Dan juga karena pepatah cinta gue beda dengan punyanya Zico. Rim, gue juga ga bisa bilang kalau kebiasaan lo yang satu itu benar, tapi percayalah gue akan perlahan-lahan membawa elo ke realita sesungguhnya. Jadi untuk sementara ini, biarkanlah gue yang ada di samping elo untuk selalu mendampingi elo hingga elo menjadi seorang gadis manis yang sempurna.

Oh, iya, ini bukan pepatah cinta, tapi hasutan cinta : I love you, would you be my girlfriend, Rima?

Dariku sang pujangga cinta,

Edbert.

Dan seketika itu, air mata haru dan bahagia tercurah dari mata Rima yang masih juga memandangi halaman terakhir dari novel “Pepatah Cinta”.

* * *

The End

0 Comments:

Post a Comment

<< Home